ANDA PENGUNJUNG KE :

Minggu, 10 Desember 2017

CHRISYE



Sudah menonton film CHRISYE?
Saya sudah.
Kalau boleh saya bilang film ini merupakan salah satu film bagus ditengah boomingnya film superhero made in hollywood saat ini.
Bagian yang berkesan bagi saya adalah saat Chrisye selesai mengadakan konser tunggal yang katanya adalah konser tunggal pertama untuk penyanyi solo Indonesia saat itu.
“ Kemaren saya diangkat seinggi-tingginya dan pagi ini saya merasa dihempaskan ke bawah lagi. Saya merasa ada yang kosong dalam hidup ini ”.
Ini adalah penggalan kalimat  yang diucapkan Chrisye setelah konsernya berjalan sukses.

Ini adalah awal dari seorang Chrisye menciptakan lagu yang konon katanya hanya sekali dinyanyikan yaitu pada saat rekaman saja.
Lagu itu berjudul “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.
Lagu ini hasil kerjasama Chrisye dengan sastrawan Indonesia yaitu Taufiq Ismail.

Sebuah lagu yang berhasil melumpuhkan seorang Chrisye.
Sebuah lagu yang membuat seorang Chrisye harus meminta sang istri datang menemaninya rekaman dan shalat khusus untuknya.
Sebuah lagu yang membuat orang mendengarnya ikut “bergetar”.
Kenapa lagu ini begitu berbeda?

Silahkan kamu nonton sendiri filmnya.
Dan jangan lupa siapkan tisu.^_^

Rabu, 06 Desember 2017

UJIANNN...? SIAPA TAKUT !!

Sekarang lagi musim ujian sekolah ya.
Bicara ujian saya teringat saat di SMA .
Bagi saya ujian merupakan momen yang mendebarkan dan menyenangkan.
Mendebarkan karena kemampuan dalam memahami pelajaran selama 6 bulan akan di uji dan dan menyenangkan setelah ujian bisa liburrrrr.

Biasanya kalau musim ujian saya akan mempersiapkan diri dengan semaksimal mungkin (versi saya ya..^_^).
Selesai shalat magrib biasanya saya langsung belajar dengan semangat.
Namun biasanya hanya 30 menit jiwa dan raga ini bisa fokus melihat tulisan di catatan saya.
Setelah itu mulailah pikiran saya tergoda untuk menonton karena biasanya kalau pas ujian film yang tayang bagus-bagus.
Dengan janji dengan diri sendiri untuk belajar sebelum shubuh belajar malam itu biasanya bisa berakhir lebih cepat dari yang direncanakan.

Kalau bosan belajar sendiri sesekali saya pergi belajar ke rumah teman yang tinggal tidak beberapa jauh dari rumah.
Namun sayangnya teman saya ini punya kebiasaan baru bisa belajar saat tengah malam.
Tidak jarang saya jadinya belajar sendiri di depan tv rumahnya sambil sesekali melirik film yang sedang tayang.
Efektif? Jelas tidak karena biasanya otak saya lebih cepat menangkap adegan di film dibandingkan tulisan "rapih" yang ada di buku catataan.

Saat musim ujian saya juga punya kebiasaan bangun dini hari untuk belajar.
Walaupun sekitar 30 menit sebelum shubuh waktu ini saya rasa paling optimal untuk memahami apa yang saya baca.

Untuk mengoptimalkan hasil belajar tidak jarang saya juga memanfaatkan waktu di dalam angkot menuju sekolah.
Namun biasanya lebih banyak bercanda dan saling ledek dengan teman dibandingkan melihat tulisan yang ada di buku saya.
Kondisi seperti ini sangat tidak efketif dan saya pikir sepertinya ini hanya ajang supaya dibilang rajin dimata teman-teman. ^_^

Sampai di sekolah  bisanya debaran jatung ini meningkat.
Apalagi ditambah melihat teman-teman yang sibuk membaca di depan kelas.
Dan kondisi ini bisa membuat saya latah untuk ikut bolak balik buku.
Padahal otak sudah tidak mampu lagi memahami apa yang saya baca.

Pada saat ini seperti ini biasanya omongan beberapa teman yang sibuk ngobrol saat yang lain buka buku ada benarnya.
“Sudahlahh….jangan banyak baca saat waktu ujian semakin dekat. Nanti hafalan sebelumnya bisa lupa”.
Entah dari mana rayuan maut ini mereka pelajari namun biasanya berhasil membuat saya “bergabung” dengan mereka.

Ujian oh ujian…!!!



Selasa, 05 Desember 2017

SI DAFFA

Kali ini saya akan bercerita tentang adik saya Daffa.
Nama lengkapnya Daffa Faishal.
Lahir 25 Januari 2005.
Saat dia lahir saya duduk di kelas 3 SMA .
Anak “nyempil” kata sebagian orang.
Awalnya canggung setelah sekian tahun tidak ada adik lagi.
Namun semua menjadi menyenangkan apalagi setelah tahu ada teman satu kelas yang punya adik mendadak seperti saya.

Saat usia beberapa bulan adik saya ini lucu sekali.
Kulit putih, rambut keriting kecil-kecil kemerahan, dengan garis wajah mirip ayah.
Bikin gemassss..

Saat usia sekitar  1 tahun setiap mendengar musik dia akan ikut bergoyang.
Dan sekitar umur 3 tahun dia sudah hafal irama lagu Justin Bieber yang berjudul  “baby”.
Tidak jarang kalau dia lagi sendiri atau dikamar mandi dia sering bersenandung lagu tersebut.

Suatu waktu dia membuat drum dari kaleng kosong yang dicarinya entah dimana.
Setelah jadi mulailah dia bergaya seperti drummer yang di tv.

Ayah akhirnya membelikan gitar kecil/ukulele untuk Daffa.
Tahu kemana dia sering bawa gitarnya itu?
Ke simpang empat dekat mesjid.
Disana dia genjrang genjreng sendiri.
Bahkan kalau dia pulang dari main dan melihat ada anak-anak muda main gitar di sana cepat-cepat dia ambil gitarnya dan lari ke simpang tersebut dengan langkah terseok-seok karena gitar yang seukuruan setengah tubuhhya.
Bergabung dengan mereka yang selalu menyambutnya dengan senyum.

Sekarang dia sudah duduk di kelas 7 SMP.
Dengan tinggi sebahu saya, badan kurus serta kulit kehitaman karena sibuk latihan silat.
Dia lah sekarang yang menemani Ama di rumah semenjak Ayah kembali pada-Nya hampir 4 tahun lalu.
Selamat ujian adikku dan semoga mendapatkan hasil terbaik.

Batam, 6-12-2017



Minggu, 03 Desember 2017

ALEK RANG RANTAU

Akhir minggu lalu saya dan istri jadi panitia pernikahan salah seorang kerabat.
Berhubung jumlah keluarganya yang sedikit sang kerabat meminta bantuan kami untuk jadi panitia dari pihak keluarga perempuan.
Sedikit informasi kerabat ini akan berbesan dengan sesama orang Minang yang sudah lama di Batam.
Calon besan dari kerabat ini bekerja di perusahaan Singapura yang ada di sini.
Sedangkan calon menantunya bekerja di Australia dan sedang menyelesaikan S2 di negara kangguru tersebut.
Kata istri calon marapulai mirip orang Filiphina karena kulitnya yang putih  bersih.

Dari kesepakatan semua acara akan full minang.
Bahkan mereka ingin ada acara sambutan berbalas pantun dari kedua mempelai.
Bagi anda orang Minang pasti tahu hal ini.
Kalau di Betawi ini mirip dengan acara “palang pintu”.

Saya agak terkejut dan  merasa senang karena masih ada juga orang yang ingin menggunakan adat seperti itu untuk yang sudah lama di rantau.
Dan sedikit  bocoran hal ini sempat menimbulkan sedikit kepanikan dari pihak mempelai perempuan untuk mencari siapa orangnya.
Maklum karena sudah lama dirantau banyak mamak-mamak yang agak sedikit lupa tentang adat seperti itu.

Dari konsep yang disepakati seluruh panitia yang laki-laki memakai jas dan perempuan berkebaya.
Awalnya sedikit canggung karena ini kali pertama saya berpakaian jas lengkap.
Berhubung saya tidak punya akhirnya jas papa mertua harus di import dari Padang. (terima kasih mama mertua ^_^)
Salah satu yang menarik dari pesta di salah satu hotel di Batam tersebut adalah penampilan tari piring.
Sampai bagian penarinya menari diatas pecahan piring kami semua panitia tanpa sadar meninggalkan tempat yang sudah ditentukan dan mendekat untuk melihat lebih jelas. ^_^
Ada sesuatu yang berbeda melihat kesenian daerah sendiri di perantauan.
Anda yang dirantau pasti pernah mengalaminya.

Oh ya ada hal lucu saat calon anak daro mendengarkan kami berdiskusi tentang acara pernikahan.
Mungkin karena terbawa suasana jadilah kami yang awalnya berbahasa Indonesia tanpa sadar menggunakan bahasa minang dengan gaya masing-masing.
Akhirnya setelah beberapa lama mendengarkan calon “anak daro” menyela dan minta tolong kalau pembicaraan dengan bahasa Indonesia karena dia tidak mengerti.
Hahaha…pantas wajahnya dari tadi flet saja. Ternyata dia bingung menangkap maksud dari pembicaraan kami.
Mungkin karena sudah tidak dibiasakan dari kecil dan sekarang dia juga bekerja di Jakarta jadilah bahasa ibunya sudah tidak paham lagi.

Iyo ndak tu sanak.




Rabu, 29 November 2017

RUMAH SAKIT (I HATE YOU!!)

Hari ini saya tidak enak badan.
Mungkin karena perubahan cuaca yang sebentar panas sebentar hujan.
Ditambah antibodi yang tidak bagus.
Hasilnya flu plus kepala pusing dan mata  berair.

Bicara mengenai sakit alhamdulilah sampai di usia sekarang belum pernah sakit yang terlalu berat apalagi sampai di rawat.
Semoga saja tidak pernah dalam sisa umur ini.
Jujur saya sangat tidak suka dengan suasana rumah sakit.
Wajah-wajah orang yang sakit, tampilan capek dari yang menunggu plus aroma obat-obatan yang menyebar ke segala penjuru ruangan.
Benar-benar bisa bikin yang sehat jadi ikutan sakit.

Selain  itu rumah sakit selalu mengembalikan kenangan yang tidak akan terlupakan saat Ayah masuk ICU.
Selama satu minggu Ayah harus di rawat di ICU untuk pemulihan kondisi yang lebih baik.
Selama itu pula saya, istri, Ama dan adik perempuan saya satu-satunya Widya bergantian menjaga.
Yang membuat saya bertambah sedih adalah melihat Ama yang letih dan sedih karena bolak balik ke rumah sakit.
Sekarang Ayah sudah tenang dan tidak akan sakit lagi karena sudah berada di sisi-NYA.




Selasa, 28 November 2017

SATE

Apa sarapan favorit anda ?
Walaupun saya pemakan segalanya saya tidak ragu kalau ditanya apa sarapan kesukaan saya, saya akan jawab sate.
Ya sate.
Tapi sate yang ini spesial dan ada di kampung saya di Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat.
Kenapa spesial? Karena sate ini buka jam 05.00 WIB .
Ya anda tidak salah baca jam 5 pagi.

Selain waktu bukanya yang tidak biasa sate ini mempunyai rasa yang khas dan sampai saat ini saya belum menemukan rasa yang mendekatinya.
Kuahnya yang pedas bercampur dengan gilingan kacang yang agak kasar plus daging sapinya yang empuk membuat saya tidak ragu untuk nambah setiap kali datang.
Didukung dengan udara yang sejuk saat shubuh di kampung saya yang dikelilingi oleh perbukitan.
Kalau boleh pinjam kata-kata Pak Bondan……maknyusssss…..!!

Tapi ingat jangan coba datang jam 6. Dijamin bisa tidak kebagian. Kalaupun masih ada mungkin tinggal ketupatnya saja.
Karena travel-travel yang mau ke Padang atau ke pusat Kabupaten kami mayoritas sarapan disana.
Dan tidak jarang juga harus mengantri agak lama karena banyaknya orang yang mau sarapan disana.

Sate ini biasa kami menyebutnya sate Ajo.
Mungkin diambil dari nama panggilan dua orang yang menjual sate tersebut.
Dan mereka sama-sama dipanggil Ajo karena berasal dari daerah yang sudah melegenda dengan satenya di Provinsi kami yaitu Pariaman.
Sate ini sudah ada sejak lama. Kalau saya tidak salah ingat saat kami sekeluarga balik kampung pada saat saya naik kelas 4 SD sate Ajo ini sudah ada.
Sampai sekarang sate Ajo ini masih ada dan setiap saya mudik pasti tidak lupa untuk sarapan disana.

Biasanyo duo Ajo ini akan melihat saya agak lama karena mungkin jarang melihat saya.
Setelah saya kasih tahu nama Ayah saya baru Ajo akan bilang “ooo....anak Si Edi pantaslah raso-raso pernah caliak ”. (ooo…anak si Edi pantas saja rasa-rasa pernah melihat). ^_^
Ya dua ajo ini adalah kawan lama Ayah saya saat masa muda.
Dan kalau sudah saya sebutkan nama Ayah biasanya ada bonus daging untuk saya. ^_^
Namun sampai sekarang saya tidak pernah tahu nama asli dari dua Ajo tersebut.

Apa sarapan anda pagi ini?

Selasa, 21 November 2017

MENGANTRI YUKS !

Konon katanya Jepang merupakan salah satu negara yang sangat displin. Semua serba teratur.
Saya rasa anda pasti sudah mengetahuinya.
Contohnya adalah tentang mengantri. Sejak kecil anak-anak sekolah di sana sudah di latih untuk belajar mengantri.
Dari yang saya baca katanya pengajar disana akan merasa gagal kalau anak didiknya tidak bisa untuk mengantri.
Karena katanya dengan belajar mengantri akan membentuk karakter yang disiplin dan saling menghargai satu sama lain.

Walaupun begitu mengantri adalah suatu hal yang saya tidak suka.
Apalagi kalau mengantrinya lama dan di saat terburu-buru untuk urusan lain.
Seperti kemaren saat saya mengantri untuk membayar tagihan air bulanan disalah satu loket pembayaran.
Di lantai satu saya disambut oleh security yang menayakan keperluan saya.
Setelah saya katakan kalau saya ingin membayar tagihan bulanan security langsung mengarahkan saya ke meja yang berada di dekatnya untuk mengambil nomor antrian.
Disini saya disambut dengan mba-mba yang sudah tersenyum manis dan saya yakin itu hasil pelatihan dari kantornya.

Untuk pembayaran saya harus naik ke lantai dua.
Di sana ternyata sudah ada beberapa orang yang lebih dulu dari saya.
Setelah dapat tempat duduk di rungan ber-ac tersebut saya mencek no antrian dengan melihat layar nomor antrian di bagian atas loket pembayaran.
Ternyata ada 11 orang sebelum saya.
Wahh…lama juga padahal saya buru-buru.
Mau tidak mau saya harus menunggu dan berusaha menyamankan diri sambil menunggu giliran.

Tidak berapa lama ada seorang ibu yang datang bersama anaknya dan duduk sebaris dengan saya.
Saat no antrian selanjutnya di panggil si ibu langsung berdiri dan bilang mau membayar tagihan kepada petugas loket.
Wah cepat juga ya baru datang sudah di panggil nomornya pikir saya.
Namun saat si ibu sampai di loket pembayaran ada seorang pemuda yang juga berjalan dan langsung berhenti begitu melihat si ibu sudah di loket.
Kenapa ada dua orang yang maju ya, pikir saya lagi.
Saya melihat ke seantero ruangan dan saya perhatikan semua orang yang sedang mengantri juga memasang wajah keheranan.
Lalu kami melihat ke arah security yang berdiri di dekat loket pembayaran dengan pandangan bertanya.
Si security yang berbadan tegap tersebut juga memasang wajah heran dan hanya nyegir untuk menjawab pertanyaan dari tatapan kami.

Setelah selesai membayar dengan tenang nya si ibu turun kembali dengan menggandeng anaknya tanpa melihat ke arah kami yang sedang mengantri.
Saat nomor berikutnya dipanggil ternyata sama dengan nomor sebelumnya dipanggil dan si pemuda yang tadi berhenti berjalan ke loket maju ke depan.
Ternyata dialah pemilik nomor antrian yang ditikung oleh si ibu.

Anda pernah mengalaminya?
Katanya untuk menjadi seseorang yang besar kita harus memulainya dari hal kecil. Seperti mengantri.
Setelah terbiasa akan terasa ada yang kurang atau merasa bersalah kalau “lupa” melakukannya.
Karena setiap pohon beringin yang rindang berasal dari biji yang kecil bukan.

Sudah antri untuk apa anda hari ini?

#salamantri