Siang ini masih di tempat kerja karena hujan.
Dilihat dari polanya bakalan awet samapai sore.
Sambil nunggu reda gak salah juga ditemani secangkir kopi. (slurupp...)
Plus wifi yang excellent he.he.he.
Ngomong-ngomong soal kopi saya sebenarnya tidak terlalu suka.
Namun kali ini rasanya pengen sekali minum kopi.
Jadilah secangkir kopi manis menemani berselacar di dunia maya.
Saya sebenarnya masih heran kenapa banyak orang yang suka minum kopi.
Bagi saya secara penampilan kopi itu gak menarik.
Hitam plus pahit .
Namun setelah di campur air panas dan ditambahkan gula munculah aroma yang membuat orang ingin mencicipinya.
Bagi saya yang bukan pencinta kopi aroma dari seduhan kopi itu sedappp...menenangkan dan bikin penasaran.
Tidak sedikit yang suka dicampur krim atau susu.
Jadilah kopasus = kopi pakai susu.
Selain itu menurut saya secangkir kopi itu sama dengan kehidupan.
Ada pahit, manis, dan wangi.
Seperti hidup yang ada rasa pahit karena kehilangan orang tersayang seperti orang tua, kakak, adik, famili atau teman.
Rasa manis itu sama seperti saat berhasil meraih impian, bisa membeli sesuatu yang sangat diinginkan sejak lama, dapat nilai bagus saaat ujian, dapat pekerjaan dan jatuh cinta.
Dan rasa wangi itu seperti bisa berbagi rasa manis tadi dengan orang tua, istri, suami, abang, kakak, dan teman-teman.
Bagi saya itulah arti secangkir kopi.
Bagi anda bisa setuju dan boleh juga tidak setuju.
Tidak usah terlalu dipikirkan karena ini hanya coretan saat menunggu hujan reda.
Berhubung kopi saya mulai dingin saya ingin menikmtinya dulu sambil menonton video dari murid-murid saya yang baik hati.
Terimakasih Nur dan Sarmila. ^_^
Jumat, 10 November 2017
SIAPA MEREKA
- Apakah mereka keluargamu?
+ bukan
- Apakah mereka kenalan lamamu?
+ bukan
+ bukan
- Apakah mereka kenalan lamamu?
+ bukan
- Apakah mereka sangat berarti bagimu?
+ Ya
- Kenapa?
+ mereka memang bukan keluarga....namun, setelah bertemu mereka membuatku merasa berada ditengah keluarga , bisa tertawa bersama, bercerita tentang mimpi-mimpi yang akan di gapai dan banyak lagi.
+ mereka memang bukan kenalan lama.....namun bersama mereka seakan kami sudah bertemu lama, bisa bercerita apa saja,
+ mereka sangat berarti karena bersama mereka aku tahu bagaimana tertawa lepas , tanpa beban, tanpa pura-pura. Saat raga ini mulai lelah wajah-wajah penuh semangat mereka yang membuat kaki ini terus melangkah.
Teruslah berjuang demi masa depan yang kalian impikan, dan demi impian orang-orang tersayang. ^-^
+ Ya
- Kenapa?
+ mereka memang bukan keluarga....namun, setelah bertemu mereka membuatku merasa berada ditengah keluarga , bisa tertawa bersama, bercerita tentang mimpi-mimpi yang akan di gapai dan banyak lagi.
+ mereka memang bukan kenalan lama.....namun bersama mereka seakan kami sudah bertemu lama, bisa bercerita apa saja,
+ mereka sangat berarti karena bersama mereka aku tahu bagaimana tertawa lepas , tanpa beban, tanpa pura-pura. Saat raga ini mulai lelah wajah-wajah penuh semangat mereka yang membuat kaki ini terus melangkah.
Teruslah berjuang demi masa depan yang kalian impikan, dan demi impian orang-orang tersayang. ^-^
Senin, 18 Mei 2015
APAKAH BISA ???
Senin tanggal 18-5-2015 saya bertemu
dengan Ketua Muhammadiyah sekaligus Ketua MUI Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, MA
di sekolah tempat saya kerja. Suatu hal yang langka melihat langsung dan
berjabat tangan dengan orang seperti beliau.
Setelah
mendengar “kuliah” singkat dari beliau ternyata apa yang sudah saya alami dan
saya lihat di sekeliling saya selama ini tidak ada apa-apa nya. Kenapa saya
bicara seperti ini? Karena ternyata sepak terjang beliau dalam kancah dalam dan
luar negeri luar biasa.
Kesibukan
beliau yang sangat padat untuk Muhammadiyah sampai tugas beliau sebagai
Presiden Organisasi Isam se Dunia sungguh padat. Saya penasaran bagaimana
beliau bisa membagi waktunya dan tetap
fit.
Dari
penuturan beliau ternyata banyak waktu untuk keluarga yang beliau korbankan
demi kepentingan organisasi dan umat. Saya sangat “iri” melihat orang yang sukses
dalam pendidikan dan juga pergaulan dalam serta luar negeri seperti beliau.
Apakah
saya bisa?? Pertanyaan ini langsung muncul begitu melihat orang-orang hebat
seperti Buya Din dan Pak Imam Robandi. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan
begitu menggebu-gebu melihat orang-orang seperti mereka. Lanjut S2, S3 sampai
Professor kalau bisa.
Wahh
. . . akan sangat luar biasa jika saya bisa mewujudkan itu semua. Bukan kenapa-kenapa
dari daerah saya belum ada dengar ada yang bisa berhasil dengan pendidikan yang
tinggi. S3 saja pasti suatu yang waww...
Kenapa
saya punya keinginan seperti itu ? tidak lain memberikan masukkan bagi orang-orang
di sekitar saya untuk melihat begitu pentingnya pendidikan. Saya tidak ingin
masyarakat Indonesia hanya jadi penonton saja melihat orang dari luar terus
mengeruk kekayaan kita. Gak bosan emangnya ?
Saya yakin banyak “mutiara-mutiara” di Indonesia
yang mampu untuk bersinar dalam tingkat dalam negeri atau dunia. Tinggal diberi
arahan dan bimbingan.
Wahhh . . . akan sangat luar biasa jika
ahli pesawat, ahli mesin, ahli kedokteran, ahli hukum, ahli biologi, ahli
fisika, ahli tata negara dan ahli-ahli lain bisa berkumpul dan duduk satu meja
demi memeprbaiki kondisi negara yang saat ini begitu “kacau balau”.
Makanya
saat murid-murid saya kelas 12 mau ujian nasioanl dan mengisi jalur undangan
masuk perguruan tinggi, saya bersemangat “mempengaruhi” mereka untuk berani
mengambil impian untuk kuliah di universitas-universitas terbaik di Indonesia
seearti ITB, UI, UGM, IPB dan lainnya.
“Pak, saya tidak boleh melanjutkan
pendidikan ke Jawa” terang salah seorang murid.
“Kenapa” tanya saya
“Takut nanti kalau saya kenapa-kenapa di
tempat orang. Apalagi tempatnya jauh dari orang tua” jelas murid tersebut.
Saya pun tersenyum.
“Ini yang tidak kalian sadari. Tidak ada
orang tua yang keberatan anaknya mendapat pendidikan di tempat terbaik. Faktor tidak
boleh tersebut muncul pasti disebabakan oleh hal-hal lain yang berasal dari
diri kalian. Contoh sekarang saja sekolah dekat orang tua masih malas-malasan,
datang ke sekolah sering terlambat, nilai raport yang tidak bagus dan banyak
faktor lainnya.” jelas saya.
Makanya
saya sangat gregetan jika melihat ada orang atau siswa saya sendiri
yang lalai dalam studi. “Santai tapi pasti” sudah sangat melekat dalam diri
kita. Ok, maksudnya supaya tidak stres dan merasa terbebani. Namun banyak yang memang
kebablasan santainya. Itu membahayakan
pendidikan mereka. Bagaimana kalau kita ganti menjadi “serius tapi pasti”.
Akan
bertambah luar biasa jika pendidikan masayarakat Indonesia minimal S1 atau S2. Sehingga
kalau mau “mengekspor” TKI lagi bukan
sebagai asisten rumah tangga tapi sebagi menejer di perusahaan-perusahaan besar
di luar negeri sana. Pasti luar biasaa . . .
Saya
teringat apa yang dibilang oleh Pak Din saat beliau berbincang-bincang dengan orang-orang
penting dari negara lain.
“Pak Din, menurut anda negara mana yang
akan muncul sebagai macan Asia berikutnya?” tanya salah seorang sahabat beliau.
“Singapura ?” jawab Pak Din.
“Bukan.” jawab teman tersebut
“Malaysia.” lanjut Pak Din
“Bukan.” jawab teman beliau lagi
“Negara yang akan menjadi macan Asia
berikutnya adalah INDONESIA” terang rekan beliau
“Kenapa anda berfikir seperti itu”
tanya Pak Din
“Saat ini Indonesia banyak mengalami
permasalahan yang luar biasa. Saya yakin jika itu semua berhasil dilewati maka Indonesia
akan muncul sebagai negara yang kuat dan tahan banting terhadap segala
permasalahan yang akan muncul” jelas tekan beliau.
Luar
biasa bukan jika semua itu benar terjadi. Melihat di kota-kota Indonesia sampai
pelosok Indonesia pembangunan merata dan tidak lagi ditemui masyarakat yang
mengemis di jalan, mengais-ngais sampah, tinggal di bawah jembatan atau
lainnya. Semoga saya diberi kesempatan untuk melihat itu semua.
Rabu, 13 Mei 2015
GAEK GOBAT
Saat
bulan puasa merupakan masa yang paling berat bagi anak kecil. Mudah letih dan
kehausan. Namun ada yang unik dari kebiasaan di tempatku di bulan puasa. Aku dan teman-teman yang lain
memiliki rutinitas yang tidak biasa di mushala di daerah kami. Kami biasanya
mengisi waktu di mushala dengan bermain ludo, congklak, gambar dan semua hal lainnya
sambil menunggu waktu berbuka.
Ini
adalah kebijakan yang diberikan pengurus mushala supaya kami anak-anak betah
untuk berada di dalam rumah ibadah. Kami diinstuksikan untuk tetap tertib di
dalam mushala. Namun namanya juga anak-anak ada juga yang berlarian.
Mushala
kami memiliki halaman yang ukurannya bisa digunakan untuk main bulutangkis. Di
sebelah kanan mushala ada jalan beraspal yang digunakan untuk menuju kampung
sebelah. Di sebelah kiri ada kebun milik warga. Dibelakang ada kebun yang
berbatasan dengan sungai mengalir tenang yang merupakan tempat favorit kami
mandi-mandi . Dan di seberang sungai terhampar perbukitan yang menghijau.
Mushala
kami memiliki dua orang marbot. Satu bernama Gaek Pakiah (Gaek = Kakek) dan
seorang lagi Gaek Gobat. Gaek Pakiah bertugas untuk jadi imam. Sedangkan Gaek
Gobat bertugas memukul bedug untuk tanda masuk shalat dan membersihkan mushala.
Beliau berdua
setia menjalankan tugas sebagai marbot sejak muda sampai akhir usia mereka. Gaek
Pakiah memiliki perwakan kecil dan kurus. Sedangkan Gaek Gobat memiliki tubuh
yang lebih berisi, pendek dan agak bungkuk. Gaek Gobat tidak bisa berbicara dengan
lancar. Namun beliau menegrti apa yang diucapkan orang lain.
Hal
yang paling menarik bagiku dari Gaek Gobat saat pertama bertemu adalah wajah
dan telinganya yang bersih dan mengkilat. Belum pernah aku melihat ada orang
yang sudah usia lanjut memiliki rupa yang begitu bercahaya. Biasanya hanya ada
kerut di usia segitu. Aku menyadari hal itu saat kelas 4 SD. Waktu itu aku dan
keluarga baru pindah dari Palembang.
Rumahku
terletak setengah kilometer dari mushala. Saat azan Shubuh aku sering
terbangun. Mendengar suara azan dan ada suatu suara lagi yang sering kudengar
dari jalan di depan rumahku. Suara
sendal yang beradu dengan jalan berasapal.
Suara
itu sering kudengar saat Shubuh. Aku penasaran siapa yang sudah beraktifitas
sepagi itu. Orang lari pagi
? rasanya tidak mungkin ada yang berlari dengan sendal. Langkah kakinya bukan seperti orang biasa lari pagi.
? rasanya tidak mungkin ada yang berlari dengan sendal. Langkah kakinya bukan seperti orang biasa lari pagi.
Sampai
beberapa hari kemudian aku masih mendengar langkah kaki tersebut. Aku belum
juga mengetahui langkah kaki siapa. Akhirnya hal tersebut kuceritakan kepada Mama.
“Itu adalah langkah kaki Gaek
Gobat ke mesjid Koto Baru” jelas Mama.
Mesjid yang dimaksud oleh Mama
adalah mesjid yang berada di kampung sebelah. “Kenapa tidak di mushala Gaek
Gobat shalat ma ?” tanyaku.
“Tidak ada yang azan dan jadi
imam di mushala. Beliau ingin shalat shubuh berjamaah “ jelas Mama.
Selang
beberapa hari aku baru tahu kalau Gaek Pakiah yang biasa jadi imam di mushala
kami sedang sakit. Setelah bertambah usia aku menyadari betapa besarnya pahala
shalat shubuh berjamah yaitu lebih baik dari dunia dan isinya. (cari
hadistnya).
Terbayang
olehku dengan langkahnya yang lambat Gaek Gobat setiap pagi berjalan sekitar 1
km untuk shalat Shubuh berjamaah.
Hal
lain yang kuingat tentang Gaek Gobat adalah pada saat kami mengaji di mushala.
Kebetulan Ayahku adalah guru mengaji di mushala. Setiap habis Magrib kami
mengaji sampai menejelang Isya. Setelah shalat Isya berjamaah baru kami pulang.
Suatu
hari aku dan seluruh murid mengaji melakukan gotong royong membersihkan mushala
dan sekitarnya. Saat itu di mushala sudah ada garin baru pengganti Gaek Pakiah
yang sudah meninggal dunia. Garin baru ini masih sekolah di pesantren di
daerahku.
Namanya
anak-anak saat goto royongpun banyak
main-mainnya. Mungkin karena terbawa
suana garin baru tersebut sedikit “menjahili” Gaek Goabat untuk membuat kami
tertawa. Namun Ayahku melihat hal tersebut. Ayah sangat marah. Kami semua
terdiam dan takut melihat Ayahku. Ayah bilang kami harus menghormati yang lebih
tua dan “kurang” dari kita.
Saat
bulan ramadhan Gaek Gobat biasa mengingatkan masyarakat sekitar melalui pengeras
suara mushala.
“Sahurrr...hurr...hurr...mo
nikk...mo nikk... (sahurrr...sahurr...lima menit lagi ...lima menit lagi) ”
seruan khas dari Gaek Gobat. Ini berlangsung tiap 5 menit.
Saat
pertama kali mendengarnya aku tersenyum. Awalnya aku tidak paham apa yang dibilang oleh
Gaek Gobat tersebut. Namun itu adalah cara Gaek Gobat membantu kami masyarakat
untuk dapat sahur.
Untuk
memberi tanda Magrib sudah masuk Gaek Gobat biasa memukul bedug di mushala
tersebut. Iya, bedug benda silinder besar yang berlobang atas bawah. Salah satu
bagian yang berlobang tersebut ditutupi dengan kulit sapi atau kerbau yang
sudah dikeringkan.Bedug tersebut juga biasa dimasuki oleh aku dan teman-temanku
saat main di mushala.
Ditengah
keterbatasan fisiknya Gaek Gobat selalu menjalankan tugasnya dengan sebaik
mungkin. Setahuku tidak pernah Gaek Gobat tidak melewatkan tugasnya kecuai
sakit.
Saat
pulang liburan di rumah salah satu hal yang aku tunggu adalah bunyi pukulan
bedug penanda Magrib datang tersebut. Suara khas Gaek Gobat membangunkanku saat
sahur. Serta melihat wajahnya yang mengkilat bersih karena air wudhu. Namun semua
itu sudah tidak mungkin lagi karna beliau sudah meninggal dunia karena sakit
saat aku sedang kuliah semester 5. Aku berdo’a semoga diusia senja nanti aku
juga memiliki wajah yang juga sama bersih dan mengkilat seperti beliau.
Minggu, 22 Maret 2015
MERAIH MIMPI
Mendung menggelayuti langit. Sepertinya
hujan akan segera turun. Aku tidak berencana kemana pun hari itu. Pikiranku
melayang ke beberapa waktu lalu saat bertemu dengan seorang teman sekolah dulu.
Teman yang menurutku baik hati dan sangat sayang kepada Mamanya. Memang semua
anak sangat sayang kepada perempuan yang telah melahirkannya. Namun temanku
tersebut punya alasan yang aku rasa tidak semua orang mengalaminya.
Mama, begitulah Daffa biasa memanggil
perempuan yang paling disayanginya dan dihormati dalam hidupnya. Setiap
mengingat Mamanya hati Daffa merasa sedih karena belum bisa membahagiakan Mamanya
dengan lebih baik. Memang orang bilang tidak akan ada yang mampu membayar jasa
perempuan yang paling mulia dalam hidup kita.
Mama
adalah perempuan “terhebat” dalam hidup Daffa. Sejak TK sampai kuliah Mama Daffa
selalu berjuang demi kebutuhannya dan juga adiknya yang masih sekolah. Daffa
ingat saat TK Mamanya membantu perekonomian keluarganya dengan berjualan tekwan
(makan berkuah khas Palembang) saat masih tinggal di Palembang. Sedangkan Ayah
Daffa bekerja sebagai wiraswasta yang pasang
surut penghasilannya. Mama Daffa adalah tipikal perempuan yang tidak mau
menyusahkan orang lain dan selalu berusaha dengan kemampuan sendiri.
Daffa ingat saat kelahiran adiknya Mamanya
pergi sendiri ke Puskesmas. Daffa yang hari itu ikut dengan Ayahnya ke toko
mendapatkan kabar dari teman Ayahnya yang melihat Mamanya pergi ke Puskesmas.
Dengan tergesa-gesa Ayahnya langsung menutup toko dan mereka langsung menuju Puskesmas.
Wajah Ayahnya begitu tegang.
Saat sampai Puskesmas ternyata Mamanya sudah
melahirkan adiknya yang cantik dan masih berwarna merah. Saat itu Daffa hanya
merasa senang dan bahagia karena sudah mendapat teman bermain di rumah. Tanpa
tahu kenapa Mamanya pergi sendiri ke Puskesmas.
Kelas
4 SD Daffa dan keluarganya pindah ke Padang. Balik lagi ke kampung Ayahnya karena
permintaan Nenek dari Ayahnya. Jadilah mereka menempuh perjalanan jauh yang melelahkan.
Namun bagi Daffa sangat menyenangkan karena naik mobil dan bisa melihat
pemandangan sepanjang jalan. Sebagai tambahan dari Kota Padang menuju kampung
Ayahnya menempuh perjalanan 4 jam.
Di rumah Nenek, Mama dan Ayah Daffa memulai
kembali usaha namun kali ini di bidang makanan dan minuman. Mamanya memulai
usaha membuat gorengan yang dititipkan ke warung-warung dan dijual sendiri di
kantin sekolah dekat rumah. Sedangkan Ayahnya memulai usaha pembuatan es aneka
rasa. Alhamdulilah walaupun perlahan semua berjalan dengan lancar. Setiap 1
bulan sekali Daffa dan keluarganya pergi ke kota Padang untuk membeli bahan
usaha sekaligus jalan-jalan. Sangat menyenangkan.
Daffa melanjutkan sekolah di SD dekat
pasar yang ada di daerahnya. Setiap hari Daffa pergi dan pulang sekolah dengan
berjalan kaki. Walaupun melelahkan Daffa bersemangat menjalaninya. Setiap pagi Daffa
membantu Mamanya mengantar gorengan ke warung-warung langganan. Namun adakalanya
Daffa bosan dan “mogok” tidak mau mengantar.
Kalau boleh waktu diputar kembali
mungkin tidak akan pernah Daffa menolak apapun permintaan Mamanya. Mungkin
karena masih kecil dan belum memahami kondisi keluarganya Daffa masih beberapa
kali “berulah”. Setiap kali Daffa menolak perintah Mamanya, tidak pernah sekalipun
Mamanya marah. Beliau hanya diam saja.
Setelah dewasa baru Daffa memahami
itulah cara Mamanya untuk memberi tahu kalau beliau sedang marah. Itulah Mamanya
walupun Daffa menolak perintah beliau Mamanya tetap menyayanginya. Setiap pagi
sebelum sekolah Daffa adalah orang pertama yang “membeli” gorengan buatan Mamanya.
Mamanya selalu tersenyum melihat anaknya begitu lahap sarapan gorengan.
Saat Daffa SMP Mamanya berjualan dekat sekolahnya.
Mereka sudah tidak tinggal lagi dengan Nenek Ayahnya. Ayah dan Mamanya mengontrak
rumah yang berjarak setengah kilometer dari sekolahnya. Daffa begitu bahagia
dan semangat belajar karena selalu dekat dengan orang tuanya. Daffa sempat
heran dengan teman-temannya yang bisa bersekolah jauh dari orang tuanya. Kalau Daffa
saat itu mengalaminya pasti tidak akan sanggup.
Sampai akhirnya saat SMA Daffa dan
keluarganya pindah ke rumah mereka sendiri. Betapa menyenangkannya saat Daffa tahu akan
tinggal di rumah yang dibangun oleh Mama dan Ayahnya dari hasil usaha mereka bertahun-tahun.
Walaupun sederhana tapi mereka merasa sangat senang dan nyaman tanpa perlu
memikirkan lagi biaya sewa rumah.
Saat SMA Daffa mulai memahami kondisi keluarganya.
Beberapa kali diam-diam Daffa memperhatikan Mamanya yang selalu bangun dan bekerja
mulai jam 03.00 WIB untuk memasak gorengan yang akan dijual. Sedih hatinya mengetahui
perjuangan Mamanya yang seakan tidak pernah ada habisnya, namun tidak pernah
sedikitpun Mamanya mengeluh dengan keadaan.
Tidak jarang kalau terbangun dini hari pasti
Daffa sudah mendengar Mamanya yang sibuk di dapur sendiri. Padahal dia yakin Mamanya
pasti capek karena sering tidur paling akhir. Daffa merasa tidak berguna namun
apa dayanya karena dia masih sekolah dan belum bisa mencari kerja untuk meringankan
beban keluarganya. Kalau sudah begitu pasti air matanya mengalir sendiri merenungi
nasib keluarganya. Semakin dekat tamat SMA, terbangun saat Mamanya sedang
berkerja dini hari semakin sering Daffa alami.
Sebenarnya
Mama Daffa adalah keturunan dari keluarga yang cukup terpandang di daerahnya. Mamanya
adalah cucu dari seorang pengusaha hasil perkebunan yang namanya dikenal sampai
tingkat kabupaten di kampung mereka. Bahkan dari cerita tetangganya Daffa tahu
kalau Kakek Mamanya adalah orang pertama yang memiliki mobil di daerah mereka.
Selain itu orang tuanya Mama Daffa juga
tergolong sukses. Mereka memiliki rumah
yang lumayan besar saat di Palembang. Sekarang Gaek dan Amak (begitu Daffa biasa
memanggil kedua orang tua Mamanya) juga sudah tinggal di kampung mengurus sawah
dan ladang yang dibeli saat masih di Palembang.
Mama Daffa merupakan anak ketiga dari
empat bersaudara dan merupakan perempuan satu-satunya. Di atas Mama Daffa ada
Abang Mamanya yang biasa dipanggilnya Angku. Angkunya ini merupakan orang yang
berkedudukan di dinas kabupaten tetangga. Adik Mamanya yang biasa dipanggilnya
Om juga orang sukses dengan bekerja diinstansi pemerintah di kabupaten yang sama
dengan Angkunya Daffa. Sedangkan Abang Mamanya yang paling tua tinggal di
daerah yang sama dengan mereka sebagai petani.
Walupun
kondisi mereka pas-pasan tidak pernah Mamanya meminta bantuan dari orang lain. Mamanya
adalah perempuan yang mandiri dan pantang untuk meminta selagi masih bisa
berusaha sendiri. Dari cerita Mamanya Daffa tahu kalau sejak SD Mamanya sudah
tinggal berpisah dari Amak yang merantau ke Palembang.
Sampai selesai SMK Mamanya terpaksa hidup
dengan saudara-saudara Amaknya. Mungkin karena faktor ditinggal Amak sejak
kecil itulah Mama Daffa pantang meminta kepada siapapun termasuk kepada
keluarga sendiri. Daffa menerka Mamanya pasti sudah ditempa dengan kondisi yang
tidak akan terbayangkan olehnya.
Selesai
SMA Daffa ingin sekali kuliah namun dia sadar dengan kondisi kelurganya.
Kalaupun kuliah Daffa harus kuliah di univesitas negeri supaya biayanya lebih
murah. Namun Daffa juga berfikiran untuk langsung bekerja. Daffa pun sempat
ikut tes STPDN namun gagal.
Daffa pun pernah berniat ikut tes Polisi namun akhirnya dibatalkan karena dia tidak
merasa cocok dengan “sistemnya”. Akhirnya Daffa memutuskan untuk istirahat dulu
1 tahun dan berenca kuliah tahun depan.
Pada
saat seperti itulah Daffa bertekad menjadi seorang yang suskes. Tidak tega
hatinya melihat Mamanya yang banting tulang demi mereka semua. Selama masa
istrirahat itu Daffa meningkatkan ibadahnya. Daffa berusaha mendekatkan dirinya
ke Allah SWT dengan shalat wajib tepat waktu dan menambah amalan sunah lainnya
seperti puasa Senin Kamis dan shalat Tahajud.
Berattt . . . sangat berattt . . . bagi
Daffa memulai semuanya. Tapi demi terwujudnya impian untuk diterima di
universitas negeri Daffa terus berjuang melaksanakannya. Tidak jarang saat
mengambil wudhu untuk shalat Tahajud Daffa sudah menemukan Mamanya memulai
aktifitas. Kalau sudah begitu air matanya mengalir sendiri dalam shalat. Dalam
do’anya Daffa memohon kepada Allah SWT untuk dipermudahkan menggapai impiannya
dan bisa membahagiakan orang tuanya.
Selain
itu Daffa mengulangi kembali pelajaran untuk menghadapi tes masuk perguruang
tinggi. Daffa belajar dengan salah seorang temannya yang sama-sama “istirahat”.
Susah sekali bagi Daffa untuk memulai kembali belajar setelah hampir setahun
tidak melihat buku pelajaran.
Setelah
tiba waktunya tes Daffa dan temannya berangkat bersama ke Kota Padang. Pada saat
tes Daffa mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Namun Daffa masih cemas dan
ragu apakah dirinya mampu untuk lulus ?
Alhamdulillahhh . . . perjuangan dan
do’a kedua orang tuanya tidak sia-sia. Saat pengumuman kelulusan Daffa berhasil
diterima di universitas negeri pilihannya. Daffa membaca pengumuman tersebut
saat dalam perjalanan mengikuti pekan olahraga Provinsi. Dari hal tersebut jugalah
Daffa bisa mendapatkan biaya untuk masuk kuliahnya. Jadi Daffa tidak perlu
meminta kepada Mamanya. Dua kebahagian yang datang bersamaan. Dalam rangka
kelulusannya tersebut Mama Daffa mengadakan syukuran dengan mengundang beberapa
orang tetangga.
Akhirnya
Daffa pun memulai hari-hari sebagai seorang mahasiswa. Daffa masih berfikiran mencari
uang tambahan untuk meringankan beban Mamanya. Daffa berusaha mencari beasiswa
dan pekerjaan paruh waktu. Namun ternyata tidak semudah itu mencari pekerjaan yang
sesuai dengan jadwal kuliahnya.
Daffa tetap terus berupaya mencari
pekerjaan yang cocok. Selain itu Daffa juga berupaya mencari beasiswa. Dan
alhamdulillah Daffa mendapatkannya dari kampus dan beasiswa daerahnya.
Semua
itu Daffa lakukan karena dia tahu Mamanya sudah berusaha dengan cara yang luar
biasa untuk menguliahkannya. Saat liburan mau lebaran Daffa melihat Mamanya juga
menjual jagung bakar selain kue yang biasa dijual untuk menambah pemasukan.
Melihat itu semua hatinya teriris.
Begitu besar perjuangan Mamanya demi memenuhi kebutuhan pendidikannya. Hal
itulah yang membuat Daffa berjanji akan mencari biaya sendiri dan tidak ingin
melihat Mamanya repot lagi.
Daffa pun akhirnya mendapatkan
pekerjaan paruh waktu yang dilakukannya sehabis pulang kuliah. Gajinya memang
tidak seberapa. Tapi Daffa terus bertahan dengan mengingat perjuangan Mamanya yang
setiap hari bangun pukul 03.00 WIB untuk membuat kue demi masa depannya tanpa
mengeluh. Tidak jarang Daffa kerja lembur dan sering pulang pukul 24.00 WIB.
Kalau sudah jam segitu Daffa pun
terpaksa pulang jalan kaki karena tidak ada angkot yang yang menuju kostnya
yang berjarak sekitar 1 km dari tempat kerja. Pulang jalan kaki ditengah malam
yang sunyi sudah biasa baginya.
Alhmadulillah sampai selesai kuliah Daffa
tidak lagi meminta uang bulanan dari rumah. Mamanyalah sosok yang menjadi
teladan dalam bekerja dan bisa membuatnya bertahan dengan segala aktifitasku
tersebut. Dalam 4 tahun kuliahnya mampu diselesaikannya.
Hal
tersebut merupakan kebahagian terbesar dalam keluarganya. Daffa tahu betapa
berat Mamanya berjuang demi dirinya supaya menjadi seorang sarjana. Mamanya
pernah bilang kalau dia jangan sampai seperti Mamanya yang tidak bisa kuliah.
Mamanya sangat ingin Daffa bisa menjadi orang sukses.
Itulah seorang Mama yang selalu memikirkan
nasib anak-anaknya. Dikemudian hari Daffa pun tahu perjuangan Mamanya yang
selalu berusaha sendiri tanpa bantuan siapapun memiliki alasan lain yang baru diketahuinya
kemudian.
Daffa
ingin menjadi manusia yang sukses demi keluarganya dengan usaha sendiri. Selesai
kuliah Daffa mencoba ikut tes pegawai negeri. Tes ditiga provinsi diikutinya bersama
seseorang yang saat ini sudah menjadi belahan jiwanya. Namun Daffa belum
berhasil. Sedih hatinya karena belum juga bisa mewujudkan impian Mamanya.
Namun Mamanya bilang “Sabar saja nak,
Allah SWT pasti sedang mempersiapkan yang terbaik dibalik ini semua”.
Hati Daffa tentram setelah mendengar
nasihat dari Mamanya tersebut. Dia pun bertekad bagaimanapun caranya harus
menjadi orang sukses. Daffa sempat bekerja di daerahnya. Namun gaji yang diterima
masih kurang. Apalagi adiknya mau masuk kuliah.
Walaupun ditengah keterbatasan Daffa bilang
ke Mamanya kalau dia ingin adiknya bisa melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya.
Apalagi adiknya adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Sebagai
Abangnya Daffa ingin memberikan masa depan yang lebih baik lagi untuk adiknya. Dia
akan membantu biaya kuliah adiknya supaya Mamanya tidak terlalu berat
menanggungnya.
Melihat
perkembangan kerjanya yang lambat Daffa memutuskan untuk mencoba peruntungan di
Pekanbaru. Di Pekanbaru Daffa mendapatkan perkerjaan dengan gaji yang lebih
baik daripada sebelumnya. Tekadnya hanya satu yaitu merubah nasib keluarganya
supaya tidak dipandang sebelah mata.
Daffa teringat saat adiknya mau kuliah
dan hala tersebut didengar oleh salah seorang familinya. Familinya tersebut
mengatakan tidak usahlah adiknya kuliah kalau tidak ada biaya. Lebih baik adiknya
menikah saja. Bahkan familinya tersebut mencarikan calon pendamping untuk adiknya,
seorang pedagang keliling yang sudah berumur. Sedih hatinya mengetahui hal
tersebut. Tekadnya semakin kuat akan mengembalikan semua kata-kata tersebut
dengan keberhasilannya. Man jadda wa jadda, siapa yang bersunggu-sungguh akan
berhasil.
Untuk
mencari tambahan Daffa kerja sambilan mengajar les supaya bisa menabung untuk
masa depannya juga. Sehabis pulang sekolah dia langsung mengajar les sampai
pukul 21.00 WIB. Daffa juga sudah mencoba berbagai usaha dari grosir makanan
ringan, usaha pulsa dan terkahir usaha cemilan yang semuanya masih kurang
memuaskan tapi dia yakin Allah SWT menyiapkan sesuatu yang lebih baik selagi
kita mau berusaha.
*****
Hujan terus turun sejak siang. Membuat
Daffa semakin nyaman di dalam kamar. Tak terasa sudah hampir 4 tahun dia di
rantau orang. Hari ini merupakan hari yang paling dianantinya. Segera dihidupkannya
laptop dan mengetik alamat suatu website. Degup jantungnya semakin keras
mengikuti loading di alamat yang diketiknya. Matanya perlahan demi perlahan
membaca halaman demi halaman. Dan mata Daffa terpaku melihat layar laptop saat membaca
namanya tertera pada pengumuman penerimaan di instansi pemerintah yang diikutinya
beberapa bulan lalu.
Beberapa saat Daffa hanya termangu. Gembira,
terharu dan rasa tidak percaya bercampur menjadi satu. Daffa pun sujud syukur
atas keberkahan yang dinantinya selama ini. Dalam linangan air mata terbayang Mamanya sedang tersenyum kepadanya.
Langganan:
Komentar (Atom)